Gajah kerdil ditemukan di Kalimantan



Sekelompok kawanan gajah pigmi (kerdil), yang sebelumnya dianggap punah, ditemukan di Kalimantan. Kawanan yang dilihat oleh Bert terdiri dari sekitar delapan: ibu, anak perempuan, saudara laki-laki dewasa. Ini adalah gajah yang selama ini ia cari-cari. Masyarakat gajah merupakan binatang yang perempuan-sentris dengan ibu sebagai pemimpin kelompok. Kawanan ini memberikan Bert sambutan yang ramah sehingga ia akhirnya menghubungi Christy Williams, seorang ahli biologi dari WWF, organisasi konservasi dunia, yang mengepalai tim untuk mengumpulkan informasi tentang gajah-gajah itu. Hal ini menyebabkan semuanya menjadi jelas.

Induk pemimpin tersebut diidentifikasi lalu tim bergerak dengan hati-hati untuk menenangkan induk gajah itu dengan sebuah tembakan peluru bius. Karena medannya kasar maka dia hanya sedikit dibius untuk mencegah dia jatuh. Operasi berjalan lancar. Kalung penanda berhasil dipasang di lehernya kemudian penangkal untuk obat penenang diberikan. Matriark (induk pemimpin) itu bergerak menjauh ke hutan untuk bergabung dengan kawanannya. Ia berhenti sekali lalu menengok ke arah kelompok Bert. Ia mengayunkan belalainya yang menunjukkan tindakan pembangkangan. Dia sekarang dapat dilacak berkat pemancar di lehernya, sehingga peneliti dapat melihat secara persis di daerah mana kelompok itu berada. Walaupun Williams dan timnya sekarang sudah mengetahui di mana induk gajah ini berada, mereka benar-benar tidak yakin dari mana mereka berasal.


Misteri mamalia
Gajah kerdil (Elephas maximus borneensis) mendiami bagian kecil pulau Kalimantan. Dulu populasinya sekitar 1.500 terselip di ujung timur laut pulau terbesar ketiga di dunia, dan ditemukan juga di tempat lain di planet ini.

Istilah gajah kerdil sebetulnya agak keliru karena gajah ini yang sudah dewasa tingginya sekitar 2,5 meter, hanya setengah meter lebih pendek dari pada kerabat mereka, gajah Asia (Elephas maximus), pada umumnya. Ukuran fisik mereka lebih besar dari ukuran yang dibayangkan banyak orang sebagaimana mereka mendapat julukan "kerdil". Gajah ini masih memperlihatkan ciri-ciri kekanak-kanakan ketika menjadi dewasa, lebih montok dibandingkan gajah lainnya dengan telinga yang lebih besar dan memiliki ekor aneh yang terlalu panjang sampai menjulur ke tanah.

Itu karakteristik yang tidak biasa yang dipromosikan dalam bentuk analisis DNA skala penuh borneensis pada tahun 2003 oleh Columbia University New York dan WWF. Sampel DNA dikumpulkan dari semua spesies yang dikenal dan subspesies dari gajah Asia kemudian dibandingkan dengan borneensis DNA. Anehnya, tidak satu pun dari beberapa DNA itu yang cocok.

Terpisahnya gajah Borneo dari gajah Asia lainnya diperkirakan 300.000 tahun yang lalu—waktu yang digunakan untuk berevolusi karakteristik genetik yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pasti ada gajah di Kalimantan pada zaman prasejarah, tepatnya pada periode Pleistosen, yang kemudian berkembang dalam spesies borneensis yang terpisah.

Teori sederhana ini tampaknya sempurna dalam segala hal kecuali satu—tak seorang pun telah melaporkan dengan meyakinkan mengenai ditemukannya fosil jenis gajah di Kalimantan. Gathorne Cranbrook, Earl of Cranbrook (gelar keturunan Inggris) dan kurator kehormatan dari Museum Sarawak di Kalimantan memutuskan untuk bergabung dengan perburuan gajah ini. Secara kebetulan ia menemukan apa yang diklaim sebagai fosil gigi gajah dari Kalimantan. Dia memutuskan untuk menganalisis gigi yang ditemukannya itu.

"Saya dibuat penasaran oleh sebuah laporan yang belum selesai tentang geraham gajah yang telah lama ditawarkan ke Museum Sarawak," kata Cranbrook. Tetapi salah satu bukti ini yang bisa membuktikan adanya nenek moyang gajah pigmi Pleistosen ternyata menemui buntu. Itu adalah gigi nyata, bukan fosil. Sehingga, disimpulkan masih tidak ada bukti adanya gajah prasejarah.

Anomali ini terus membingungkan para ahli biologi, dan tes DNA yang dilakukan tidak mampu memecahkan misteri dari mana gajah pigmi berasal. Satu-satunya petunjuk adalah cerita rakyat setempat yang masih ada yang mengatakan bahwa gajah-gajah tersebut dibawa ke pulau itu oleh raja-raja besar zaman dulu.*****

Reader’s Digest Ausie




SKRIPSI [S1]: SKRIPSI [S1]:

Adm. Bisnis
Adm. Publik
Agama
Akuntansi
Antropologi
Bahasa & Sastra
Biologi
Ekonomi
Farmasi
Fisika
Geografi
Hub. Internasional
Hukum

Info & Komputer
Kebidanan
Kedokteran
Kehutanan
Keperawatan
Kesehatan
Kimia
Komunikasi
Lingkungan
Manajemen
Matematika
Musik
Olahraga

Pendidikan
Pertanian
Politik
Psikologi
Sejarah
Sosiologi
T. Arsitektur
T. Elektro
T. Geologi
T. Industri
T. Mesin
T. Sipil
Turisme

TESIS [S2]:

Adm. Bisnis
Adm. Publik
Agama
Akuntansi
Antropologi
Bahasa & Sastra
Biologi
Ekonomi
Farmasi
Filsafat
Fisika
Geografi

Hub. Internasional
Hukum & Notariat
Info. & Komputer
Kedokteran
Kehutanan
Kelautan
Keperawatan
Kesehatan
Kimia
Komunikasi
Lingkungan
Manajemen

Matematika
Musik
Olahraga
Pendidikan
Perenc. Wilayah
Perikanan
Pertanian
Politik
Psikologi
Sejarah
Sosiologi
Teknik
Turisme

DISERTASI [S3]:    

Adm. Bisnis
Adm. Publik
Agama
Akuntansi
Antropologi
Bahasa & Sastra
Biologi
Ekonomi
Farmasi
Filsafat
Fisika
Geografi

Hub. Internasional
Hukum
Info. & Komputer
Kedokteran
Kehutanan
Kelautan
Keperawatan
Kesehatan
Kimia
Komunikasi
Lingkungan
Manajemen

Matematika
Musik
Olahraga
Pendidikan
Perikanan
Pertanian
Politik
Psikologi
Sejarah
Sosiologi
Teknik
Turisme




Tidak ada komentar:

Posting Komentar