BEKANTAN (Nasalis Larvatus)


Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb. Atau proboscis monkey) hanya ditemukan di pulau Kalimantan di Asia Tenggara. Mereka lebih memilih untuk tinggal di hutan campuran diterocarp-kerangas, hutan mangrove, dan hutan dataran rendah dekat air tawar dan sungai. Mereka hidup umumnya secara eksklusif di hutan mangrove, tetapi juga dapat ditemukan di hutan hujan dataran rendah. Mereka mengandalkan hutan bakau di dekat tepi sungai untuk beristirahat dan tidur. Mereka menghindari daerah-daerah terbuka dan menghindari permukiman manusia.

Monyet yang sulit ditangkap ini merupakan lutung Asia. Mereka adalah satu-satunya anggota dari genus Nasalis.

Bekantan mendapatkan namanya karena hidungnya yang besar. Bekantan jantan memiliki hidung besar. Sedangkan hidung yang betina tidak besar, namun lebih besar daripada kebanyakan monyet, dan bekantan remaja memiliki hidung yang seperti terbalik yang kecil. Hidung bekantan jantan begitu besar yang terlihat menggantung di atas mulut. Kadang-kadang mereka harus mendorongnya keluar dari mulutnya sebelum meletakkan sesuatu ke dalam mulut mereka. Hidung mereka membengkak dan berubah menjadi merah ketika mereka gembira atau marah. Mereka juga bersuara mirip klakson mobil yang keras terdengar sebagai peringatan ketika mereka merasakan bahaya, yang membuat hidung mereka menonjol lurus. Hidung berfungsi sebagai resonator ketika bekantan bersuara.


      >> Koko, gorila yang bisa berkomunikasi dengan manusia

      >> Binatang peliharaan bisa cegah penyakit jantung

      >> Gajah kerdil yang dinyatakan sudah punah ditemukan di Kalimantan

Karakteristik lain dari bekantan adalah perutnya yang besar. Bekantan adalah langur dan mereka memiliki sistem pencernaan yang unik yang memungkinkan mereka memakan daun sebagai pasokan makanan utama mereka. Dengan ukuran dua kali lebih besar daripada monyet colobine lainnya, perut mereka terdiri dari bagian-bagian dan penuh dengan bakteri yang mencerna selulosa. Bakteri ini membantu mencerna daun dan menetralkan racun dalam daun tertentu. Isi perut mereka adalah seperempat dari berat badan mereka yang membuat mereka terlihat hamil secara permanen.

Kemampuan mereka untuk makan terutama daun menempatkan mereka sebagai satu-satunya mamalia berukuran sedang yang tinggal di kanopi hutan.

Mereka memiliki bulu coklat kemerahan di punggung dan bahu, yang berakhir di bagian tengah. Dada mereka berwarna krem, dengan kerah krem di sekitar leher dan pinggang sampai pantat dan ekornya. Lengan dan kaki mereka panjang, dengan kulit tangan dan kaki abu-abu. Bulu oranye menutupi bahu mereka dan ada semacam topi bulu merah gelap menutupi kepala mereka. Wajahnya berwarna merah-daging dengan mata kecil cokelat yang cerdas. Telinganya kecil dan lurus ke atas kepala mereka.

Bekantan jantan jauh lebih besar dan lebih berat daripada betina. Tinggi seekor bekantan jantan adalah 2 sampai 2,5 kaki (66-72 cm), dan beratnya 16-23 kg, sementara yang betina 1,7-2 kaki (53-61 cm) panjang dan beratnya hanya 7-11 kg. Ekornya sama panjangnya dengan tubuh mereka.

Sekelompok bekantan rata-rata terdiri dari 12-27 individu tetapi ada juga yang beranggotakan 60 sampai 80 jantan dan betina. Kelompok-kelompok bekantan tidak memiliki banyak struktur. Baik jantan maupun betina akan keluar dari kelompok tempat lahirnya pada saatnya. Sistem sosial bekantan memiliki dua tingkat. Salah satunya adalah kelompok dengan anggota yang semuanya jantan.

Kelompok ini terdiri dari anak, remaja dan jantan dewasa. Jantan remaja akan meninggalkan kelompok tempat mereka dilahirkan pada umur sekitar 18 bulan, dan bergabung dengan kelompok yang semua anggotanya jantan . Agresi antara para jantan sangat sedikit ketika mereka bergabung bersama. Tingkat kedua terdiri dari beberapa kelompok yang dipimpin oleh jantan terpisah. Setiap jantan akan memiliki harem sendiri dan beberapa harem ini bersama-sama membentuk kelompok. Betina dapat berpindah dari satu kelompok harem ke harem lain ketika muda, tetapi sebagian besar harem stabil dalam hal jumlah. Bekantan bukanlah spesies teritorial sehingga berbagai kelompok akan tumpang tindih dengan banyak kelompok lain dalam satu tempat.

Betina dewasa cenderung untuk mengkoordinasikan gerakan dan memimpin kelompok ketika makan. Salah satu jantan yang dominan akan menjaga di pohon yang tinggi ketika kelompoknya makan.

Bekantan tergantung pada habitat yang berbatasan sungai, dan biasanya tidak bergerak lebih jauh dari 1.969 kaki (600 m) dari sungai atau perairan. Mereka tidur di atas pohon, lebih memilih cabang tebal yang tumbuh di atas air, untuk melindungi diri dari predator. Bekantan adalah perenang yang sangat baik, tetapi berenang hanya bila diperlukan, seperti ketika menyeberangi sungai. Mereka akan menyeberang pada titik tersempit dari perairan atau sungai dengan cara berenang seperti anjing. Banyak bekantan yang lari menyeberang pada saat yang sama untuk menghindari predator seperti buaya.

Mereka akan diam-diam meluncur ke dalam air dan berenang tenang tanpa percikan air agar tidak menarik perhatian predator. Pada saat ada bahaya, seluruh pasukan dapat melompat ke dalam air sebagai sarana untuk melarikan diri. Sebagian kaki berselaput membantu bekantan berenang dan mengurangi beban berat ketika berjalan di lumpur mangrove yang lembut.

Bekantan berayun melalui pohon-pohon dan melompat dari cabang ke cabang menggunakan keempat anggota badan, bergerak perlahan karena berat badan mereka. Biasanya makan di pagi hari, mereka akan beristirahat sepanjang hari. Kemudian akan makan lagi sebelum malam tiba. Waktu yang terbesar dari aktivitas dari sore sampai gelap. Sembilan puluh lima persen dari makanan mereka adalah daun pohon bakau dan pedada. Mereka lebih memilih daun dewasa yang lebih tua. Mereka juga makan buah-buahan dan biji-bijian.

Bekantan melahirkan satu bayi pada satu musim. Periode kehamilan mereka adalah sekitar 166 hari. Mereka biasanya akan melahirkan di malam hari dan bayi yang baru lahir memiliki wajah biru dan, bulu hampir hitam yang masih jarang-jarang. Perubahan warna yang menandakan mereka dewasa sekitar 3-4 bulan. Betina akan membantu menjaga satu sama lain dan kadang-kadang bayi menyusu setelah bayi lainnya. Bekantan muda akan tinggal di dekat ibunya selama sekitar satu tahun, atau sampai ibunya memiliki bayi lain. Bekantan jantan akan mencapai kematangan seksual pada sekitar 4-5 tahun dan betina dalam 4 tahun. Usia mereka sekitar 20 tahun.

Predator utama bekantan adalah manusia, macan tutul, ular piton. Bekantan dulunya dilindungi oleh habitat mangrove, yang tak layak huni bagi manusia. Sekarang teknologi telah memungkinkan untuk menebang bakau dan illegal logging telah menyebabkan hilangnya habitat bekantan dan populasi mereka semakin menurun.

Pada tahun 1986 McKinnon menaksirkan jumlah populasi bekantan hanya 250.000 individu, 25.000 di antaranya berada di Kawasan Konservasi. Berdasarkan Yeager dan Blondal (1992), bekantan yang ada di kawasan konservasi kurang dari 5000 individu, sedangkan habitat bekantan yang berada dalam kawasan konservasi hanya 4,1 persen dari seluruh habitat bekantan (McNeely et al., 1990). Pada tahun 1994 populasi bekantan di Kalimantan ditaksir sejumlah 114.000 individu (Bismark, 2002) dan dalam simposium PHVA bekantan tahun 2004, populasi bekantan ditaksir tinggal 25.000 individu, dan yang berada di kawasan konservasinya 5.000 individu.

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan spesies primata tergolong langka dan endemik Kalimantan, dengan habitat terbatas pada hutan bakau, hutan di sekitar sungai dan habitat rawa gambut yang sebagian telah terdegradasi oleh berbagai aktivitas manusia. Termasuk jenis satwa dilindungi sesuai Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999, dikategorikan spesies terancam punah (endangered) oleh IUCN Red List dan masuk dalam Appendix I CITES.*****


>> Video Bekantan






SKRIPSI [S1]:                         

Adm. Bisnis     Adm. Publik     Agama     Akuntansi     Antropologi     Bahasa & Sastra Biologi     Ekonomi     Farmasi        Fisika        Geografi          Hub. Internasional Hukum

Info & Komputer     Kebidanan       Kedokteran       Kehutanan       Keperawatan     Kesehatan       Kimia       Komunikasi       Lingkungan       Manajemen       Matematika       Musik           Olahraga

Pendidikan       Pertanian       Politik       Psikologi       Sejarah       Sosiologi              T. Arsitektur          T. Elektro            T. Geologi           T. Industri           T. Mesin             T. Sipil             Turisme

TESIS [S2]:                     

Adm. Bisnis     Adm. Publik       Agama         Akuntansi         Antropologi         Bahasa & Sastra   Biologi          Ekonomi          Farmasi          Filsafat          Fisika         Geografi

Hub. Internasional Hukum & Notariat  Info. & Komputer Kedokteran         Kehutanan         Kelautan          Keperawatan         Kesehatan         Kimia         Komunikasi     Lingkungan Manajemen

Matematika   Musik          Olahraga       Pendidikan       Perenc. Wilayah  Perikanan     Pertanian    Politik        Psikologi       Sejarah       Sosiologi       Teknik        Turisme

DISERTASI [S3]:                     

Adm. Bisnis     Adm. Publik       Agama         Akuntansi         Antropologi         Bahasa & Sastra   Biologi          Ekonomi          Farmasi          Filsafat          Fisika         Geografi

Hub. Internasional Hukum                 Info. & Komputer Kedokteran       Kehutanan     Kelautan        Keperawatan       Kesehatan         Kimia         Komunikasi     Lingkungan Manajemen

Matematika   Musik          Olahraga       Pendidikan       Perikanan     Pertanian    Politik        Psikologi       Sejarah       Sosiologi       Teknik        Turisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar